KABARINDO.NEWS – Di balik hingar bingar perayaan dua dekade berdirinya Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, sebuah lonceng kematian sedang dibunyikan dari kedalaman hutan hingga ke bibir pantai. Daerah yang seharusnya bersolek di usia dewasanya, kini tampak seperti pesakitan yang digerogoti dari dalam. Emas yang dulunya dianggap berkah, telah bermutasi menjadi kutukan yang melumpuhkan hukum dan membusukkan alam.
Malam di lokasi tambang bukan lagi sunyi, melainkan raungan mesin-mesin besi yang tak kenal henti merobek rahim bumi. Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah menjelma menjadi monster yang tak tersentuh. Di sini, hukum tampak seperti naskah komedi yang tak lucu, ia ada, tapi ditertawakan oleh deru alat berat eksavator.
Pohuwato hari ini adalah Wilayah Tanpa Tuan bagi hukum. Kita melihat kejahatan lingkungan terjadi di depan mata, dilakukan secara telanjang, namun tangan-tangan kekuasaan seolah lumpuh. Ini bukan sekadar penambangan ilegal, ini adalah pengkhianatan terhadap konstitusi dan masa depan anak cucu kita.
Jika Anda berdiri di pesisir, jangan harap melihat pantulan langit biru di air laut. Yang tersisa hanyalah “Lautan Darah Hitam” cairan cokelat pekat binasa yang membawa pesan kematian dari hulu. Sedimentasi berat dan sisa-sisa limbah beracun telah mengubah wajah Teluk Tomini menjadi kuburan massal bagi terumbu karang dan biota laut.
Hardiknas Dulman memperingatkan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah skenario horor nyata. Pohuwato sedang “menabung” bencana yang ledakannya tinggal menunggu waktu.
“23 tahun kita merdeka secara administrasi, tapi kita dijajah secara ekologi. Lautan kita berubah warna, tanah kita berlubang-lubang seperti medan perang. Siapa yang bertanggung jawab saat nanti anak-anak Pohuwato hanya mewarisi tanah yang beracun dan laut yang mati?,” ujarnya.
Pohuwato sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, segelintir orang berpesta di atas tumpukan emas, di sisi lain, alam sedang meregang nyawa. Seruan Hardiknas Dulman adalah pengingat terakhir sebelum kegelapan benar-benar menutup masa depan Bumi Panua.
Jika negara tetap diam, maka sejarah akan mencatat bahwa di usia ke-23, Pohuwato tidak sedang merayakan kelahiran, melainkan sedang menggali liang lahatnya sendiri.














